Membludaknya Pemuda, Anugrah atau Bencana?

Oleh: Uswatun Hasanah
MENUJU tahun 2020, Indonesia medapatkan bonus yang sangat besar yaitu bonus demografi. Mungkin beberapa diantara kita masih asing dengan istilah bonus demografi.

Apabila merujuk pada  Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN), bonus demografi merupakan bonus yang dinikmati suatu negara sebagai akibat dari besarnya proporsi penduduk produktif (rentang usia 15-64 tahun) dalam evolusi kependudukan yang dialaminya.

Pada periode itu, jumlah usia angkatan kerja, yakni yang berusia 15-64 tahun, diperkirakan mencapai sekitar 70%.  Dengan kata lain bonus demografi, adalah fenomena membludaknya pemuda disuatu negara.

Fenomena ini diebut bonus karena akan sangat menguntungkan dari sisi pembangunan bangsa karena jumlah penduduk usia produktif sangat besar, fenomena ini juga dapat menjadi anugerah bagi bangsa Indonesia.

Jika Indonesia dapat membaca keadaan dan menyiapkan generasi muda yang berkualitas tinggi. Indonesia diperkirakan akan memiliki sekitar 180 juta jiwa usia produktif.

Sedang usia tidak produktif sekitara 60 juta jiwa, atau dapat dikatakan 180:60 maka 10 orang usia produktif hanya menanggung 3-4 orang usia tidak produktif, sehingga akan terjadi peningkatan tabungan masyarakat dan tabungan nasional.

Namun, apabila bangsa Indonesia tidak mampu menyiapkan generasi muda yang berkualitas tinggi, seperti pendidikan yang tinggi, penyediaan lapangan kerja dan upaya peningkatan kualitas SDM lainnya seperti pelayanan kesehatan dan gizi yang memadai.

Maka akan terjadi permasalahan, saat penduduk usia produktif tidak produktif lagi maka akan teradinya pengangguran yang besar-besaran dan akan menjadi beban negara.

Jika kita kembali melihat pertumbuhan ekonomi Indonesia, penganguran memang sudah menjadi momok bagi indonesia sejak dulu.

Dalam hal ini, dapat dikatan bahwa bonus demografi akan berkah jika dapat diraih, akan menjadi bencana jika tidak dapt dikeldalikan.

Pemerintah harus mampu menjadi agent of development dengan cara memperbaiki karakter generasi bangsa, mulai dari pendidikan, kesehatan, kemampuan komunikasi, dan penguasaan teknologi memberikan softskiil kepada para pemuda yang akan menajdi usia produktif.

Sehingga pekerja tidak hanya bergantung pada ketersediaan lapangan pekerjaan tapi mampu menciptakan lapangan pekerjaan.

Selain itu pemerintah juga harus bisa menjaga ketersediaan lapangan pekerjaan nantinya, serta menjaga aset-aset Negara agar tidak dikuasai pihak asing yang pastinya akan merugikan karena akan terbatasnya peluang kerja. [*]

BAGIKAN

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here