Bukan Hanya Transfer Ilmu Semata

Oleh : Saiful Haris Arahas (Aktifis PII)

SEWAKTU belajar di pesantren, ada ungkapan ustadz yang selalu saya ingat. Menurutnya, metode mengajar itu tak kalah penting dari materi yang hendak diajarkan. Namun guru yang baik jauh lebih penting dari pada materi pelajaran dan metode pengajarannya. Jadi sosok guru merupakan aktor terpenting bagi suksesnya sebuah proses pembelajaran dan pendidikan.

Guru bagaikan aktor dan aktris yang setiap hari tampil untuk dilihat, didengarkan, dan ditiru tutur katanya. Makanya sebaik apapun konsep kurikulum yang dihasilkan pemerintah, kalau kualitas gurunya tidak berkualitas, sasaran dan target pendidikan tidak akan tercapai.

Statemen ini telah dibuktikan Pemerintah Finlandia yang menerapkan rekrutmen calon guru sangat ketat hingga mengantarkan negara ini berada paling tinggi dalam bidang pendidikannya. Pelamar calon mahasiswa terbanyak adalah pada fakultas keguruan.

Makanya tenaga pengajar disana adalah putra-putri terbaik bangsanya. Mereka bekerja sebagai pendidik tidak direcoki berbagai urusan birokrasi. Sebaliknya mereka mendapatkan kebebasan berinovasi berdasarkan riset secara kontinu.

Dalam berbagai forum pelatihan guru, saya sering meliputi kegiatan-kegiatan seperti itu, tepatnya ketika saya masih aktif di Pengurus Besar Pelajar Islam Indonesia di Jakarta, saya sering membagikan kertas kepada para peserta untuk menuliskan nama guru dan sekolahnya yang telah memengaruhi kualitas dan jalan hidup mereka. Siapakah guru-guru yang memberi inspirasi, motivasi, dan teladan yang masih terkenang meskipun sudah belasan tahun tidak pernah berjumpa.

Setelah dituliskan, mereka lalu saya minta berbagi cerita dihadapan peserta lainnya. Dari sekian pengalaman mengikuti Prof. Komaruddin Hidayat (Guru Besar Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah) memberi pelatihan guru, guru-guru yang baik setidaknya memiliki empat ciri.

Pertama, mereka menguasai materi yang hendak diajarkan. Kedua, pandai memilih metode yang tepat agar mudah dipahami siswa serta tidak menjemukan. Ketiga, membangkitkan imajinasi dan motivasi siswa untuk berani bermimpi tentang masa depan. Keempat, mengajar dengan cinta dan ketulusan.

Sewaktu menjadi mahasiswa, saya pernah diajar oleh seorang dosen yang rajin membaca dan koleksi bukunya banyak. Namun ketika memberi kuliah, mahasiswa sulit memahaminya.

Mungkin ini disebabkan miskin metode. Kurang kreatif dan terampil membuat hal-hal yang rumit menjadi simpel tanpa kehilangan substansinya. Dia pintar untuk diri sendiri, tetapi kurang pandai memintarkan mahasiswa.

Sebaliknya, saya pernah bertemu dengan dosen yang bacaannya tidak kaya, tetapi pintar meeingkaskan isu yang sulit, lalu mengembangkannya dengan contoh-contoh yang familier dalam kehidupan sehari-hari. Tentu saja, dosen dan guru yang baik adalah yang menguasai keduanya.

Para psikolog mengatakan, usia pelajar itu disebut formative years. Masa pembentukan pribadi. Kalau pada usia mereka menemukan lingkungan dan guru yang bagus, yang memiliki empat kriteria diatas, umumnya ketika masuk kuliah mereka akan meraih prestasi yang bagus.

Berdasarkan pengamatan saya dilingkungan Kampus Universitas Syiah Kuala dan Universitas Islam Negeri Ar-Raniry di Banda Aceh, mahasiswa dan alumni yang prestasinya menonjol dan berhasil menempuh program strata satu, magister, dan doktor di universitas ternama di dunia umumnya mereka datang dari lingkungan pendidikan yang bagus. Bahkan banyak diantara mereka yang berasal dari dunia pesantren atau mirip boarding school.

Di pesantren tumbuh budaya cinta ilmu dan hidup sederhana dalam suasana persaudaraan. Tak dikenal berantem antarsiswa. Ada suatu prinsip, attitude above knowledge.

Para siswa atau dikenal santri begitu hormat dan santun kepada guru. Nilai dan tradisi ini justru sangat kuat dan berakar dalam masyarakat Jepang. Sementara kultur semacam ini saat ini semakin menurun dilingkungan sekolah kita pada umumnya.

Dengan munculnya media sosial (medsos), anak-anak dan masyarakat memiliki hobi baru, yaitu berkomunikasi lewat Twitter atau WhatsApp. Lewat medsos, berbagai macam informasi mudah didapat. Mereka terlibat diskusi dan perdebatan lewat medsos tanpa kedalaman, yang menonjol justru sikap like or dislake, bukannya right or wrong.

Disana juga ada nilai dan tradisi yang hilang, yaitu sopan santun, layaknya dialog guru-murid, dalam perjumpaan tatap muka. Makanya jangan heran, isi dan komunikasi di medsos sering kali penuh caci maki. Tak ada jenjang tua dan muda. Semuanya merasa sama dan bebas menulis apa saja.

Di lingkungan sekolah, terlebih lagi dengan sistem boarding, mesti ditimbuhkan budaya sekolah (school culture) yang membiasakan diri menghormati keunikan pribadi masing-masing. Setiap anak adalah istimewa, maka biasakan menghargai perbedaan dengan tetap berpegang pada nilai-nilai keagamaan dan kemanusiaan universal.

Semua itu sulit diwujudkan kalau tak ada jalinan cinta kasih antara guru-murid, antar sesama murid, dan antar semua komunitas sekolah. Mengajar tanpa cinta tak akan membekas dalam sanubari anak didik.

Allah pun mengutus para rasul-Nya karena cinta kepada makhluknya. Sekalipun seorang guru menguasai materi dan metode yang hendak diajarkan, jika masuk kelas tanpa hati, bekasnya tak akan mendalam.

Bila guru melibatkan hati dalam mengajar, murid juga akan melibatkan hati dalam menerimanya. Guru yang baik tidak sekedar terpaku untuk transfer pengetahuan, tapi yang menebarkan cinta kasih dan menginspirasi anak didiknya.

Jika dalam tulisan ini sangat banyak terdapat kekurangan, itu datangnya dari saya penulis sendiri. Dan saya bukanlah seorang guru, melainkan hanya hamba Allah, yang sedang mencoba untuk meninggalkan bekas bahwa saya pernah hidup dan mengabdi untuk Allah di dunia yang fana ini. Sebab kata seorang ulama besar, Imam Al-Ghazali, “kalau kamu bukan anak raja dan engkau bukan anak ulama besar, maka jadilah penulis”. [*]


Editor: Yusri Razali

Tinggalkan Kami Pesan

Jadilah yang Pertama untuk Komentar!

Notify of
avatar
wpDiscuz