Ia memastikan material rel tidak hilang dan masih tersimpan.“Semua barang ada di gudang kami. Kalau mau rekonstruksi, tentu butuh teknik tertentu,” tambahnya.
Di sisi lain, Anggota Komisi III DPRD Kota Cirebon, Umar S Klau, menilai polemik ini berawal dari niat baik pemerintah daerah.
“Saya menangkap ini sebagai spontanitas. Awalnya melihat niatan baik Wali Kota yang ingin membantu kota,” katanya.
Baca Juga:HAB ke-80 Kemenag, Pj Sekda Cirebon Tegaskan Kerukunan Jadi Energi Utama Pembangunan DaerahPedagang Ikan Laut Diserbu Pembeli Untuk Pesta Tahun Baru
Namun demikian, ia menegaskan bahwa inisiatif pembongkaran berasal dari pimpinan daerah.“Berarti inisiator utamanya ada di Wali Kota Cirebon, supaya clear,” tegasnya.
DPRD pun memastikan akan segera menindaklanjuti polemik ini melalui Rapat Dengar Pendapat (RDP).
“Semua pihak, termasuk budayawan, sejarawan, hingga Wali Kota akan kami undang. Rencananya pekan depan,” ujarnya.
Kepala Disbudpar Kota Cirebon, Agus Sukmanjaya, menyebut forum tersebut digelar sebagai respons atas derasnya kritik publik.
“Kami merespons perkembangan di media dan media sosial, sehingga malam ini kami kumpulkan seluruh stakeholder,” katanya.
Agus juga menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat atas kegaduhan yang terjadi.
“Atas nama pemerintah daerah, kami memohon maaf,” tuturnya.
Ia menegaskan, pembongkaran tidak akan dilanjutkan sepenuhnya sebelum ada kesepakatan bersama.
Baca Juga:Tahun 2025, 21 Ribu Wisatawan Mancanegara Gunakan Kereta Api di Daop 3 Cirebon Pelaku Curanmor Beraksi di Masjid. Aksinya Terekam CCTV
“Sekitar 85 persen sudah terbongkar, 15 persen masih ada dan tidak akan dibongkar dulu sebelum ada keputusan bersama,” jelasnya.
Sebagai solusi, Disbudpar tengah menyiapkan konsep pelestarian dalam bentuk display edukatif.
“Nilai historinya akan tetap ditampilkan, ada foto dan narasi, agar generasi mendatang tahu bahwa dulu ada jalur kereta di sana,” pungkasnya. (eza)
