CIREBON-Polemik terkait rel kereta api peninggalan Belanda di Cirebon dibongkar semakin memicu reaksi publik.
Kali ini, kritik keras datang dari Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kota Cirebon yang menilai tindakan tersebut sebagai ancaman serius terhadap pelestarian sejarah daerah.
Ketua KNPI Kota Cirebon, Jaka Permana secara tegas menyayangkan adanya pembongkaran sisa rel kereta api yang diduga memiliki nilai historis tinggi.
Baca Juga:HAB ke-80 Kemenag, Pj Sekda Cirebon Tegaskan Kerukunan Jadi Energi Utama Pembangunan DaerahPedagang Ikan Laut Diserbu Pembeli Untuk Pesta Tahun Baru
Ia menilai langkah tersebut sebagai kemunduran dalam menjaga identitas kota yang selama ini dikenal sebagai kota budaya dan sejarah.
Menurut Jaka, Cirebon bukan sekadar wilayah administratif, melainkan juga ruang sejarah yang menyimpan jejak penting perkembangan transportasi dan ekonomi di masa lalu.
Rel-rel tua yang kini dibongkar itu dinilai menjadi saksi bisu peran strategis Cirebon sebagai salah satu pusat konektivitas di Pulau Jawa pada masa kolonial.
“Pembangunan tidak boleh menghapus jejak sejarah. Rel kereta api peninggalan Belanda di Cirebon dibongkar tanpa kajian matang justru menunjukkan lemahnya komitmen terhadap pelestarian warisan budaya,” tegasnya.
Ia juga menyoroti pentingnya pendekatan pembangunan yang tidak hanya berorientasi pada modernisasi, tetapi juga tetap menghargai nilai historis.
Konsep penataan kota, kata dia, seharusnya mengedepankan prinsip ramah cagar budaya atau heritage-friendly, bukan justru menghilangkan aset bersejarah.
Lebih lanjut, KNPI mendesak agar seluruh aktivitas pembongkaran yang berpotensi merusak situs bersejarah segera dihentikan.
Baca Juga:Tahun 2025, 21 Ribu Wisatawan Mancanegara Gunakan Kereta Api di Daop 3 Cirebon Pelaku Curanmor Beraksi di Masjid. Aksinya Terekam CCTV
Jaka meminta adanya kajian komprehensif dari Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) sebelum keputusan lanjutan diambil.
Tak hanya itu, pihaknya juga mendorong Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Cirebon untuk lebih aktif dalam melakukan pengawasan terhadap aset cagar budaya.
Hal ini dinilai penting guna mencegah kejadian serupa terulang di masa mendatang.
“Pemuda Cirebon tidak menolak pembangunan. Namun, kami menolak pembangunan yang mengabaikan sejarah. Jika rel-rel ini hilang, maka sebagian cerita perjalanan Cirebon juga akan ikut lenyap,” ujarnya.
KNPI juga menilai, hilangnya jejak sejarah akan berdampak pada generasi mendatang yang kehilangan referensi identitas daerahnya sendiri.
Kota yang dipenuhi bangunan modern tanpa sentuhan sejarah dikhawatirkan akan kehilangan karakter khasnya.
