Ad 970x250

Intelijen dan Diplomat AS Menderita Sakit Misterius di Kuba dan China

Menlu AS Mike Pompeo. Foto/REUTERS

WASHINGTON – Amerika Serikat (AS) masih menyelidiki penyebab puluhan pegawai pemerintah AS di China dan Kuba mengalami sakit misterius yang disebut ‘Sindrom Havana’.

Pernyataan itu diungkapkan Menteri Luar Negeri (Menlu) AS Mike Pompeo. Lebih dari 40 pegawai pemerintah AS mengalami sindrom itu antara akhir 2016 hingga 2018.

“Sumber daya pemerintah AS yang besar didedikasikan untuk menyelesaikan mister itu tapi belum ada analisis yang komplit, hanya teori, tentang bagaimana insiden itu terjadi,” papar Pompeo saat konferensi pers di Departemen Luar Negeri (Deplu).

Pompeo menyatakan, “Kami telah melakukan banyak kerja untuk mencoba dan mengidentifikasi bagaimana ini semua terjadi dan kami terus mencoba dan menentukan dengan tepat penyabab ini, sambil melakukan yang terbaik untuk memastikan kami merawat kesehatan dan keselamatan orang-orang itu.”

Penyakit misterius yang diderita para diplomat Amerika Serikat di Kuba masih menjadi misteri. Pemerintah AS menduga ada “gelombang sonik” yang dilontarkan kepada kedutaan besarnya di Havana.

Mengutip BBC, beberapa staf dan Kedutaan Besar AS untuk Kuba mengeluhkan gejala mulai dari pusing, kehilangan keseimbangan, gangguan pendengaran, kecemasan dan sesuatu yang mereka sebut sebagai “kabut kognitif.” Hal ini mereka sebut sebagai “sindrom Havana.” Penyakit ini pertama kali menyerang orang-orang di Kedutaan AS untuk Kuba pada 2016-2017. 

Berdasarkan laporan National Academies of Sciences, memang tidak disebutkan adanya gelombang energi yang sengaja diarahkan. Namun, penelitian tentang efek energi frekuensi radio tercatat telah dilakukan Uni Soviet lebih dari 50 tahun lalu. 

Atas landasan itu, AS menuduh Kuba melakukan “serangan gelombang sonik”. Namun hal itu dibantah keras oleh Kuba, dan insiden tersebut meningkatkan ketegangan antara kedua negara. 

Sebuah studi akademis AS pada 2019 mengungkapkan adanya “kelainan otak” pada diplomat yang jatuh sakit. Namun, Kuba menyangkal laporan tersebut.

Hal serupa juga dialami para diplomat Kanada. Mereka lantas mengurangi staf kedutaannya di Kuba setelah 14 warganya melaporkan gejala serupa.

Studi terbaru yang dikutip BBC melaporkan, banyak yang menderita efek jangka panjang dan melemahkan. Penelitian itu memeriksa gejala dari sekitar 40 pegawai pemerintah.

“Komite merasa bahwa banyak tanda, gejala, dan pengamatan yang khas dan akut yang dilaporkan oleh pegawai. Konsisten dengan efek energi frekuensi radio (RF) yang diarahkan dan berdenyut,” tulis laporan tersebut.

Penelitian itu juga mencatat sudah ada studi di Rusia era Uni Soviet tentang efek gelombang berdenyut, akibat paparan gelombang radio terus menerus. Dikatakan juga bahwa personel militer di negara-negara komunis Eurasia pada waktu itu terpapar radiasi non-termal.

Bukan cuma di Kuba, diplomat AS juga pernah melaporkan gejala seperti itu di Guangzhou, China pada 2018. Pemerintah AS bahkan menarik beberapa stafnya setelah mereka melapor telah merasakan sensasi suara dan tekanan halus tapi tidak normal. Sementara seorang pejabat AS didiagnosis mengalami trauma otak ringan setelah kejadian tersebut. (*)