Ad 970x250

Ilmuwan Temukan Pelaku Mutilasi Memiliki Kombinasi Masalah Kesehatan Mental

ilustrasi 090602 big

JAKARTA-Jasad korban pembunuhan dan mutilasi ditemukan di Kalimalang, Bekasi pada Senin (7/12). Hingga saat ini, kepolisian masih terus menginvestigasi kasus mutilasi tersebut lantaran jasad yang ditemukan hanya bagian badan tanpa kepala, lengan kiri, dan kedua kaki.

Meski kasus ini masih didalami oleh kepolisian, para ilmuwan sebenarnya telah menguji apa yang ada di benak pembunuh mutilasi serta pembunuh berantai. Mereka menemukan adanya kombinasi masalah kesehatan mental dari autisme yang berhubungan dengan trauma psikologis sehingga mereka dapat melakukan tindakan kriminal.

Penelitian di University of Glasgow ini mengidentifikasi hubungan yang kompleks antara masalah perkembangan saraf dan faktor psikososial. Ditemukan bahwa 28 persen dari pembunuh menderita gangguan spektrum autisme (ASD) dan 21 persen menderita cedera kepala yang dicurigai terjadi di masa lalu.

Yang mengejutkan, dari seluruh pembunuh, 55 persen pernah mengalami peristiwa traumatis yang menyebabkan stres psikologis.

Tapi menurut pemimpin studi, Dr Clare Allely dari Institute of Health and Wellbeing at the university, hal ini bukan berarti individu dengan ASD atau trauma kepala akan menjadi pembunuh berantai atau melakukan kejahatan serius. Namun sebaliknya, mungkin ada subkelompok individu yang cenderung melakukan kejahatan serius ketika terkena stres psikososial tertentu.

Temuan yang dipublikasikan dalam Journal of Violent and Aggressive Behaviour ini menunjukkan hubungan antara gangguan perkembangan saraf, seperti ASD atau trauma kepala, dan gangguan psikososial, seperti terpapar kekerasan fisik atau seksual selama masa kanak-kanak.

Dr Allely mengatakan, penelitian menunjukkan adanya “masa tumbuh kembang” yang salah sehingga mendasari seseorang bertindak ekstrem.

“Kami akan merekomendasikan bahwa di masa depan, semua pembunuh berantai atau pelaku mutilasi yang ditangkap harus benar-benar dinilai dengan menggunakan alat standar untuk menyelidiki gangguan perkembangan saraf,” kata Allely, seperti dilansir Independent, Selasa (4/10/2016).

Pembunuhan massal bisa dikategorikan sebagai pembunuh beberapa orang dalam waktu singkat. Dan pembunuh berantai dapat membunuh orang dalam waktu lama dengan cara apapun, termasuk mutilasi.

Direktur National Autistic Society Centre for Autism, Carol Povey, berpendapat, masalah ini sangat serius dan perlu penelitian lebih lanjut jika ingin mengembangkan strategi pencegahan.

“Tapi kami akan mendesak orang untuk tidak menyimpulkan bahwa orang-orang dengan autisme memiliki penilaian yang buruk di masyarakat,” katanya.

Memang, dalam banyak kasus, individu dengan autisme biasa bersangkutan untuk menjaga surat hukum, karena sifat kecacatan. Namun penelitian ini menegaskan kembali pentingnya memastikan bahwa orang-orang dengan autisme mendapatkan dukungan yang mereka butuhkan sedini mungkin. (*)