Ad 970x250

Virus Covid-19 Bisa Tertular dari Asap Rokok?

860573 1512633161
Ilustrasi: Asap Rokok (NET)

JAKARTA-Salah satu gaya hidup yang bisa meningkatkan risiko penularan Covid-19 adalah merokok. Faktanya bahwa Covid-19 adalah penyakit yang menyerang paru-paru dan merokok merusak fungsi paru-paru dan menurunkan kekebalan tubuh.

Saat perokok terinfeksi Covid-19, lebih susah memerangi virus ini. Bukti-bukti yang ada saat ini menunjukkan bahwa perokok memiliki tingkat kematian dan keparahan yang lebih tinggi dibanding pasien Covid-19 yang bukan perokok.

Pemerintah lokal di Galicia, wilayah Spanyol bagian utara, mengeluarkan larangan merokok di bar, restoran dan tempat umum lainnya, sejak 12 Agustus 2020.

Larangan serupa pun dikeluarkan oleh otoritas lokal di salah satu kawasan wisata Spanyol lainnya, Kepulauan Canary. Larangan itu keluar karena ada kekahwatiran bahwa merokok bisa meningkatkan risiko penularan virus corona (Covid-19).

Keputusan pemerintah lokal di Galicia dan Kepulauan Canary didasarkan pada rekomendasi sejumlah ahli dan hasil sebuah riset Kementerian Kesehatan Spanyol yang terbit pada Juli 2020. Riset tersebut menyimpulkan bahwa risiko penularan Covid-19 meningkat sebab ada kemungkinan droplet menyebar dari mulut para perokok positif corona melalui asap yang mereka hembuskan, demikian dilansir BBC.

Selama ini, diyakini bahwa penularan virus COVID-19 dapat terjadi melalui kontak dekat dengan orang yang terinfeksi. Air liur, dan tetesan saluran pernapasan yang keluar melalui hidung orang yang terinfeksi Covid-19 dapat menjadi medium virus masuk ke dalam tubuh orang yang sehat.

Lantas, bagaimana dengan asap rokok? Apakah COVID-19 bisa menular melalui asap rokok orang yang terinfeksi?

Mengutip laporan di laman Health, hal itu memang bisa saja terjadi. Partikel-partikel kecil sekresi hasil pernapasan, baik lewat mulut maupun hidung, dapat terbang ke udara saat orang berbicara, bernyanyi, atau menghembuskan asap rokok.

Jika partikel tersebut mengandung virus maka ia dapat ditularkan saat proses aerosolisasi, yakni ketika virus berada di udara dalam jangka waktu lama. Hal ini dijelaskan oleh ahli paru di St. Jude Medical Center di Fullerton, California, AS, Julie Lyou.

“Karena virus corona baru menyebar melalui kontak langsung dari orang ke orang, aktivitas yang mencakup kontak dekat (kurang dari dua meter) tanpa masker harus dihindari, termasuk menjadi perokok pasif,” ujar Lyou.

Osita Onugha, ahli bedah toraks dan asisten profesor onkologi bedah toraks di John Wayne Cancer Institute, Province Saint John’s Health Center, Santa Monica, California, juga berpendapat sama.

“Masuk akal menganggap asap yang mengandung cairan pernapasan, dapat memicu penularan COVID-19,” ujar Onugha.

Selain itu, Onugha menambahkan, ada perbedaan penting antara mengembuskan napas dengan mengeluarkan asap rokok. Orang dapat bernapas saat menggunakan masker.

Sebaliknya, orang tidak dapat mengembuskan asap rokok sambil mengenakan masker. Orang yang merokok harus melepas masker. Karakter ini yang membuat lingkungan berisiko tinggi bagi siapa pun di sekitar perokok selama masa pandemi COVID-19.

Meski tidak ada bukti kuat yang menunjukkan virus corona mampu menyebar lebih jauh melalui asap rokok, Onugha mengatakan tidak ada jarak aman yang dapat direkomendasikan bagi orang yang merokok dan tidak.

Oleh karena itu, Onugha menyarankan mereka yang bukan perokok menjauh dan tetap memakai masker saat bertemu dengan orang yang merokok.

Di sisi lain, merokok juga meningkatkan risiko terinfeksi virus corona bagi mereka yang menjalani kebiasaan ini. Sebab, merokok terbukti memiliki dampak negatif pada kesehatan paru-paru. Selain itu, merokok pun bisa menghambat respons kekebalan tubuh terhadap infeksi, terutama di saluran pernapasan.

Sejumlah bukti epidemiologis yang kuat terkait hubungan rokok dengan peningkatan risiko infeksi paru-paru membuat para ahli mengandaikan bahwa kebiasaan tersebut juga memperbesar risiko infeksi COVID-19, demikian dilansir laman The Union, organisasi yang bergerak dalam kampanye kesehatan paru-paru.

Sementara itu, studi dari Cina menunjukkan, bahwa para perokok pria memiliki risiko lebih besar terinfeksi virus corona daripada perempuan yang merokok.

World Health Organization (WHO) pun menyatakan bahwa kegiatan merokok dapat meningkatkan kemungkinan penularan virus dari tangan ke mulut.

Hal ini mengingat para perokok secara umum memegang rokok yang dihisap dengan japitan 2 jari. Sedangkan jari-jari tangan kerap memegang benda-benda yang mungkin telah terpapar droplet yang mengandung virus corona.

Meskipun demikian, masih perlu pembuktian lebih lanjut untuk memastikan bahwa merokok dapat membuat individu lebih mungkin tertular COVID-19. (*)