Ad 970x250

Nyepi Tanpa Pawai Ogoh-ogoh Akibat Pandemi

EwZ6gUYU8AU51Lc
Selamat Hari Raya Nyepi 2021, Tahun Baru Saka 1943 bagi umat Hindu yang melaksanakannya. Sekumpulan anak-anak di Bali, tahun 1920 Kamera dengan lampu kilat By J.M.Chs. Nijland/KITLV Leiden

BERITA-Pawai Ogoh-Ogoh biasanya dilakukan satu hari sebelum perayaan Nyepi. Namun, dua tahun ini pawai ditiadakan akibat pandemi Covid-19. Pawai Ogoh-Ogoh saat perayaan Nyepi kerap menampilkan patung raksasa yang punya tampilan mengerikan.

Tampilan patung raksasa mengerikan itu dibuat sebagai representasi dari Bhuta Kala yang merupakan sosok jahat dalam kepercayaan Agama Hindu.

Pawai ogoh-ogoh menjadi penting sebelum merayakan Nyepi di Bali karena bertujuan untuk menghilangkan unsur negatif Bhuta Kala. Apalagi, keberadaan Bhuta Kala bisa saja mengganggu umat Hindu dalam merayakan Nyepi. Oleh karena itu, pawai ogoh-ogoh digelar saat perayaan Nyepi berkeliling kota atau pun desa.

Setelah sampai di tujuan akhir, ogoh-ogoh tersebut tak boleh dibiarkan begitu saja. Peserta pawai ogoh-ogoh akan melakukan pembakaran. Hal ini merupakan representasi upaya menghilangkan unsur Bhuta Kala yang dapat mengganggu ketenteraman dan ketenangan manusia.

Waktu pawai ogoh-ogoh ternyata tidak boleh sembarangan. Pawai hanya bisa dilakukan saat petang hari atau sandikala, sekitar pukul 18.00 sampai 19.00. Pada jam tersebut dianggap sebagai momen yang angker karena Bhuta Kala dipercaya tengah berkeliaran.

Dikutip dari kintamani.id, Pawai ogoh-ogoh saat perayaan Nyepi memang diakhiri dengan pembakaran. Namun, bukan berarti patung-patung ogoh-ogoh itu dibuat dengan seenak hati. Sebagai gantinya, pawai ogoh-ogoh kini didesain dengan begitu spektakuler. Bahkan, proses pembuatannya bisa memakan waktu berhari-hari. Oleh karena itu, tak heran kalau pawai ogoh-ogoh jadi aktivitas yang begitu menarik bagi para wisatawan.

Pelarangan pawai ogoh-ogoh diputuskan bersama oleh Parisada Hindu Dharma Indoneia (PHDI) Bali dengan Majelis Desa Adat Bali melalui Surat Edaran (SE) tertanggal 19 Januari 2021. “Pengarakah ogoh-ogoh bukan merupakan rangkaian wajib Hari Suci Nyepi, karena itu pengarakan ogoh-ogoh pada Hari Suci Nyepi Tahun Saka 1943 ditiadakan,” kata ketua PHDI Bali, I Gusti Ngurah Sudiana dalam keterangan tertulis dikutip dari inews.id, Rabu (20/1/2021).

Dia menjelaskan, kebijakan pelarangan pawai ogoh-ogoh oleh masyarakat juga berdasarkan Peraturan Gubernur (Pergub) Bali Nomor 46 tahun 2020, dan Instruksi Menteri Dalamg Negeri Nomor 1 Tahun 2921 tentang PPKM. Hari Raya Nyepi jatuh pada tanggal 14 Maret mendatang. Dia mengatakan adanya pelarangan pawai ogoh-ogoh itu tak terlepas dengan pertimbangan beberapa peraturan yang sudah ada.

Tak cuma pawai ogoh-ogoh, upacara Melasti, Tawur, dan Pangrupukan yang juga rangkaian Hari Raya Suci Nyepi diminta untuk mengikuti protokol kesehatan dalam pelaksanaannya. Pertama, kata dia, yakni pembatasan jumlah peserta. Paling banyak 50 orang. Kedua, pemukan agama menggunakan ‘paniratan’ yang bersih untuk memercikkan tirta kepada umat dan memberikan bija dengan peralatan yang bersih.

Berikutnya ketiga yakni dilarang membunyikan petasan atau mercon sejenisnya. Keempat, bagi yang sedang sakit atau kurang sehat tidak diperbolehkan mengikuti upacara. Kelima, mematuhi seluruh protokol kesehatan. “Bagi umat lain di Bali agar bersama-sama mendukung dan menyukseskan pelakasaan Nyepi,” tuturnya.

Menurut para cendekiawan dan praktisi Hindu Dharma, proses ini melambangkan keinsyafan manusia akan kekuatan alam semesta dan waktu yang maha dashyat. Kekuatan tersebut meliputi kekuatan Bhuana Agung (alam raya) dan Bhuana Alit (diri manusia).

Dalam pandangan Tattwa (filsafat), kekuatan ini dapat mengantarkan makhluk hidup, khususnya manusia dan seluruh dunia menuju kebahagiaan atau kehancuran. Semua ini tergantung pada niat luhur manusia, sebagai makhluk Tuhan yang paling mulia dalam menjaga dirinya sendiri dan seisi dunia. (*)