Ad 970x250

Sambaran Petir Saat Max Sopacua Ngomong di Hambalang, Demokrat Kubu AHY: Nyaris, Untung Pakai Tenda

Politikus senior Partai Demokrat Max Sopacua berdiri temgah memberikan keterangam pers
Ketua Dewan Kehormatan Partai Demokrat versi Kongres Luar Biasa (KLB) Max Sopacua (kanan) menyampaikan keterangan pers di kawasan Wisma Atlet Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Kamis (25/3/2021).

BERITA-Kubu Moeldoko kembali menyerang Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Kali ini, serangan dilakukan dari Hambalang, di tengah guyuran hujan lebat. Tendanya nyaris roboh karena diterpa angin kencang, nyaris saja mereka juga kesambar petir.

Ada dua tenda putih terpasang di Bukit Hambalang, Citeureup, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, yang disediakan panitia. Di dalamnya, ada beberapa kursi dan sederet meja memanjang, bertaplak putih biru. Di sini lah konferensi pers digelar.

Baca: AHY Pilihan Anak Muda Capres 2021, Moeldoko Tak Masuk Daftar

Mula-mula, cuaca di Desa Hambalang, Citereup, Bogor itu, tampak cerah berawan. Namun, tiba-tiba awan mendung datang, disusul angin bertiup kencang. Sekelebat kemudian, sekitar pukul 13.20 WIB hujan rintik membasahi kawasan di tengah hutan itu.

Tak biasanya memang, Hambalang dipilih sebagai lokasi konferensi pers (konpers). Karena, biasanya kubu Moeldoko cs menggelar konpers di cafe dan restoran jantung Ibu Kota.

Kenapa digelar di Hambalang? Inisiator Kongres Luar Biasa (KLB) Demokrat di Deli Serdang, Damrizal yang pertama pegang mic, memberi bocoran. “Di sini Hambalang, masih banyak sisa-sisa yang kami minta kepada pemerintah, bahwa kebenaran mesti tegak walau langit akan runtuh,” ucapnya, menyiratkan masih belum tuntasnya penanganan kasus korupsi proyek mangkrak di era SBY itu.

Baca: Sebut Pelaku ‘Kudeta’ Partai Demokrat, Andi Arief: Moeldoko

Giliran Muhammad Rahmad, yang dinobatkan sebagai Juru Bicara Demokrat kubu Moeldoko, ucapannya lebih pedas. Dia menyebut, proyek triliunan rupiah itu, hampir menjadi candi. “Candi Hambalang,” sindirnya. Sampai di sini, cuaca berubah, hujan turun kian deras.

Ia kemudian, mengisahkan bagaimana Pusat Olahraga dan Sekolah Atlet ini menjadi awal sejarah kudeta kursi Ketua Umum Partai Demokrat sah kala itu, Anas Urbaningrum. Kudeta lewat jalur hukum, yang menurutnya, terkesan dipaksakan.

Rahmad menepis tudingan adanya intervensi dari pemerintahan Jokowi di balik penunjukan Kepala Staf Kepresidenan, Moeldoko sebagai Ketua Umum Partai Demokrat versi KLB Deli Serdang. SBY bersama AHY, kata dia, sengaja membangun narasi untuk menyesatkan publik. Lalu, ia memaparkan sejumlah argumentasi yang menjadi dasar pentingnya digelar KLB.

Suasana makin panas ketika giliran Max Sopacua yang ngomong. Politisi Demokrat yang pernah 10 tahun duduk di kursi DPR dari Dapil Bogor itu, mengaku tahu betul apa yang terjadi di Hambalang. “Ini daerah pemilihan saya,” klaimnya.

Sayangnya, ia tersingkir dari Demokrat setelah SBY menjabat sebagai Ketua Umum. Sehingga sejak 2014, ia tak lagi menjadi penghuni Senayan. “Tapi Ketua RW, tetap,” candanya, disambut ketawa hadirin.

Secara lebih gamblang, ia menjelaskan kenapa konpers digelar di Hambalang. “Tempat ini lah, salah satu bagian yang merontokkan elektabilitas Partai Demokrat,” ujar Max, menohok.

Sejumlah rekan-rekannya di Demokrat yang terlibat, sebutnya sudah menjalani proses hukum. Tapi, ia menyayangkan masih ada yang tidak tersentuh hukum.

“Saya ingin menyampaikan kepada teman-teman…,” kata Max, lalu tiba-tiba suara petir menggelegar hingga menghentikan ucapannya. “Setuju dianya (petir) gua ngomong gitu,” sambungnya, sambil menunjuk ke atas dengan wajah tegang.

Max yang kini dinobatkan sebagai Ketua Dewan Kehormatan Demokrat versi KLB mengaku kesal dituding sebagai perusak Demokrat. Padahal, kata dia proyek Hambalang lah yang merusak partai berlogo mercy itu. “Bagaimana Demokrat itu mulai-mulai turun, dari 20,4 persen menjadi 10,2 persen, dan 7,3 persen. Itu berturut-turut. Saya pelaku sejarah,” tandasnya.

Sambaran petir ketika Max ngomong itu lalu jadi cibiran petinggi Demokrat kubu AHY. Salah satunya, Ketua Bappilu Partai Demokrat, Andi Arief. “Saya sedih, mantan kader dan mantan senior kader kabarnya kena sambar petir di Hambalang. Kita doakan, alam bersahabat dengan mereka. Lain kali buat konferensi pers jangan di tempat terbuka,” sindirnya di akun @Andiarief_.

Lalu ia mengklarifikasi. “Nyaris, untung pakai tenda,” sambung dia di kolom komentar. “Niat hati ‘cari panggung’ di Hambalang, apa daya samberan petir yang datang,” sentil akun @YanHarahap.

Staf Pribadi SBY yang juga Wasekjen Partai Demokrat, Ossy Dermawan menyoroti kerumunan di tenda yang kian sesak setelah diguyur hujan. “Kemungkinan klaster Covid-19 baru di Hambalang,” cuitnya, di akun @OssyDermawan.

Kepala Badan Komunikasi Strategis Partai Demokrat, Herzaky Mahendra Putra menilai konpers kubu Moeldoko itu adalah bentuk frustrasi dan usaha menutupi rasa malu. “Mereka mau mengalihkan isu dari rentetan kegagalan upaya kebohongan publik yang mereka lakukan selama dua minggu terakhir,” kata Herzaky dalam keterangannya, kemarin.

Setidaknya ada empat hal yang menjadi dasar pernyataannya itu. Pertama, telatnya berkas KLB masuk ke Kemenkumham. Lebih dari satu minggu dari yang dijanjikan. Kedua, laporan Marzuki Alie ke Bareskrim Polri, ditolak. Ketiga, laporan Moeldoko ke Polda Metro Jaya, juga ditolak.

“Terakhir, gugatan Marzuki Alie dan kawan-kawan ke PN, dicabut karena ketidakyakinan mereka terhadap legal standing,” pungkasnya.  (*)