Ad 970x250

Mahasiswa Asal Kuningan Ubah Limbah Kulit Durian Jadi Biodegradable Foam, Dosen UGJ: Kemasan Makanan Ramah Lingkungan

WhatsApp Image 2021 07 29 at 15.01.59 e1627547730497

BERITA-Kemasan stryofoam (polistiren busa, EPS) atau plastik busa dibuat dari polimer polystyrene yang “dibusakan” (foamed).  Polistiren busa sering diaplikasikan sebagai kemasan plastik sekali pakai, selanjutnya dibuang hingga sering menimbulkan tumpukan sampah yang banyak. Seiring bertambahnya pemanfaatan styrofoam untuk mengemas produk pertanian maupun makanan siap saji,  maka meningkat pula limbah yang dihasilkan. Bahaya dari dampak styrofoam sangat buruk bagi lingkungan karena limbah kemasan styrofoam sampai saat ini masih belum dapat diatasi pemusnahannya, mengingat bahan dari kemasan styrofoam tersebut tidak mudah diuraikan alam.

Sehingga perlu dibuat kemasan biodegradable foam atau biofoam untuk menjadi bahan kemasan makanan  alternatif yang mampu menggantikan material sintesis Styrofoam sehingga ramah lingkungan yang merupakan inovasi biomaterial.

Baca: Dosen UGJ Ciptakan Alat Petik Gedong Gincu Sistem Elektronik Tenaga Surya

Menurut pemilik dengan nama lengkap Nida Hopiaramadhan ini, hasil karyanya merupakan tema penelitian dari tugas akhir atau Skripsi saat dirinya masih menjadi mahasiswa di Fakultas Pertanian UGJ,  alasan dijadikannya kulit durian sebagai bahan baku pembuatan biodegradable foam karena di daerah tempat tinggalnya yaitu di  Kabupaten Kuningan banyak masyarakat yang menanam buah durian sehingga ketersediannya kulit durian pun melimpah.

“Bahan utama yang digunakan dalam pembuatan Biodegradable foam yaitu kulit durian, Magnesium Stearat, PVA (Polivinil Asetat), pati jagung, natrium hidroksida (NaOH), etanol 95%, aquades, H 2 SO 4 72%, H 2 SO 4 1 N, HCl 6 Molar”

Keterangan foto tidak tersedia.

Sedangkan tahapan dalam pembuatan kemasan biodegradable foam dari kulit durian yaitu dengan proses ekstraksi basa. Bertujuan untuk  mengetahui karaktertistik kandungan serat kulit durian. Proses ekstraksi basa biasa menggunakan larutan NaOH dalam proses delignifikasi. Dengan proses ekstraksi basa untuk memisahkan komponen selulosa dari komponen lainnya.

“Tahap selanjutnya yaitu membuat Formulasi Adonan Biofoam.  Llimbah kulit durian  dibersihkan dan dipotong-potong. Potongan tersebut dikeringkan dengan menggunakan oven dengan suhu 100°C selama 2 hari. Setelah kulit durian kering dihaluskan menggunakan mesin penggiling hammer mill sehingga menghasilkan serat kasar dan serat halus. Serat kasar dan halus yang dihasilkan disebabkan cara  kerja hammber mill yaitu pengecil ukuran menggunakan gaya pukul, mata hammer digerakkan oleh motor penggerak dengan kecepatan tinggi, hammer akan

memukul bahan ke dinding-dinding hammer.  Selanjutnya adonan dicetak dengan alat thermopressing selama 3-4 menit dengan suhu mesin sekitar 178-180˚C” Tutur Nida menjelaskan.

Nida berharap, hasil penelitiannya ini, kedepannya dapat berkolaborasi dengan pihak industry (perusahaan) untuk memproduksi kemasan biodegradable foam dari kulit durian ini secara masal, sehingga banyak masyarakat yang beralih dari kemasan Styrofoam sintetis ke  kemasan biodegradable foam.

Menurut Dodi Budirokhman salah satu Dosen Agroteknologi UGJ Dampak penggunaan styrofoam bagi lingkungan adalah sifatnya yang sulit diuraikan oleh alam, dan jika dibakar styrofoam akan menyebabkan dioxsin. Dikarenakan hal tersebut, maka limbah styrofoam lama-kelamaan akan semakin menumpuk sehingga akan merusak lingkungan sekitar. Inovasi tersebut merupakan solusi isu pencemaran lingkungan pada masa Pandemi Covid 19, karena  dengan adanya pandemic ini pemesanan makanan secara online, dan pearaturan yang melarang restoran melayani makan-minum di tempat atau dine in, melainkan hanya menerima pesan-antar atau  delivery/takeaway, hal ini jelas berkontribusi meningkatkan penggunaan Styrofoam sintetis yang pada akhinya menjadi sampah plastik.”

“Biodegradable foam adalah kemasan alternatif pengganti Styrofoam terbuat dari pati yang bersifat biodegradable, dicetak dengan proses thermopressing. Kelebihan yang dimiliki kemasan biodegradable foam yaitu bisa terdegradasi atau terurai secara alami dengan jangka waktu 15 hari oleh tanah. Sedangkan kulit durian sendiri  merupakan salah satu serat alam yang merupakan limbah lignoselulosik yang mengandung selulosa, hemiselulosa, dan lignin hemiselulosa, masing-masing merupakan senyawa-senyawa yang potensial dapat dikonversi menjadi produk yang lebih bermanfaat sebagai penguat dan pembuatan polimer produk komposit seperti Biodegradable foam “ ujar Dodi menambahkan. (*)