SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA

Kamus Sejarah Indonesia Jilid I dan Jilid II Framing Sistematis Hilangkan Peran NU

1580798465747 tebuireng
Pintu masuk Pondok Pesantren Tebuireng Jombang. (Foto: Instagram/@tebuireng.online)

BERITA-Pesantren Tebuireng Jombang turut bersuara terkait beredarnya softcopy Kamus Sejarah Indonesia Jilid I dan Jilid II yang diterbitkan Direktorat Sejarah pada Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Bagi Pesantren Tebuireng, naskah yang terdapat dalam kamus tersebut tidak layak dijadikan rujukan bagi praktisi pendidikan dan pelajar Indonesia.

Baca: Hasil Survei 86,2 Persen dari 116 Guru Tidak Mengenal Aplikasi Agama ‘Aminin’

Baca JugaSubhanallah, Ada Lafadz Allah di Kawah Gunung CiremaiNicholas Saputra-Ariel Tatum Bermain Total di Trailer Sayap Sayap Patah

“Karena banyak berisi materi dan framing sejarah yang secara terstruktur dan sistematis telah menghilangkan peran Nahdlatul Ulama dan para tokoh utama Nahdlatul Ulama, terutama peran Hadlratus Syaikh KH Mohammad Hasyim Asy’ari,” jelas Humas Pesantren Tebuireng Jombang, Nur Hidayat, Selasa (20/4).

Framing sejarah tersebut, kata dia, sangat terlihat dengan hilangnya nama dan peran pendiri NU KH Hasyim Asyari.

Baca JugaLuis Suarez Dikabarkan Balik Kucing ke BarcelonaMasjid At-Thohir Jadi Destinasi Wisata Religi Baru Favorit di Depok

Jika dicermati lebih dalam, jelasnya, narasi yang dibangun dalam kedua jilid Kamus Sejarah Indonesia tidak sesuai dengan kenyataan sejarah, karena cenderung mengunggulkan organisasi tertentu dan mendiskreditkan organisasi yang lain.

“Di luar itu, banyak kelemahan substansial dan redaksional yang harus dikoreksi dari konten Kamus Sejarah Indonesia tersebut,” sambungnya.

Bagi Pesantren Tebuireng, sejarah bangsa sangat penting diketahui untuk membangun peradaban di masa yang akan datang. Tidak ada satu bangsa yang menjadi besar tanpa memahami dan mempelajari sejarah leluhurnya.

Baca JugaJadwal Indonesia vs Meksiko di Toulon Cup 2022, Indonesia Berpeluang Lolos SemifinalSidak Ketersediaan Obat Covid-19, Stok Oseltamivir Kosong, Jokowi: Terus Saya Cari ke Mana

Karena itu, lanjutnya, penulisan sejarah yang jujur merupakan tanggung jawab semua elemen bangsa.

“Pesantren Tebuireng Jombang menuntut Kemendikbud meminta maaf kepada seluruh bangsa Indonesia atas kecerobohan dan kelalaian dalam penulisan kamus sejarah tersebut,” tutupnya. (*)

Kirim Komentar