Ketika Qurma Mulai Berebut Pasar Pengguna Muslim

Ketika Qurma Mulai Berebut Pasar Pengguna Muslim
0 Komentar

MENJAMURNYA aplikasi-aplikasi Islami tak hanya karena gemuknya pasar muslim di Indonesia, namun juga didorong oleh tren hijrah di kalangan anak muda.

Tak sedikit aplikasi-aplikasi baru bermunculan sepanjang awal tahun berjalan ini, terutama aplikasi yang khusus menyasar umat Islam di Indonesia sebagai pangsa pasar utamanya. Sebut saja, aplikasi Qurma yang menawarkan sejumlah fitur, mulai dari Alquran, jadwal salat, petunjuk arah kiblat hingga informasi-informasi lainnya.

Dikutip dari laman resminya, aplikasi tersebut berawal dari diskusi tentang sulitnya mendapatkan informasi dan melakukan kegiatan-kegiatan ibadah sehari-hari. Langkah inilah yang dilakukan inisiator meluncurkan aplikasi untuk satu kebutuhan umat muslim dalam #BERBAGI KEBAIKAN.

https://www.instagram.com/p/B2LJQLilLQF/?igshid=1bkq1zxegf645

Baca Juga:Cerita Kesaksian Penggali Makam Habibie di TMP KalibataSetelah Istri

https://www.instagram.com/p/B1i-06wnDbc/?igshid=1j48ojimxf1o0

Aplikasi Qurma merupakan aplikasi islami yang bisa digunakan untuk membantu aktivitas ibadah. Memiliki berbagai fitur yang tidak ada di aplikasi islami lainnya. Fitur tersebut akan menemani penggunanya untuk melakukan ibadah.

Qurma jelas ingin membidik pertumbuhan pesat memanfaatkan momentum ini, terlebih Indonesia merupakan salah satu pasar muslim terbesar di dunia.

Dalam Sensus Penduduk Badan Pusat Statistik (BPS) 2010, jumlah umat Islam di Indonesia mencapai 207 juta jiwa atau 87 persen dari total penduduk sebanyak 238 juta jiwa. Jumlah itu merupakan 13 persen dari seluruh umat muslim di dunia.

Sementara itu, Boston Consulting Group (BCG) memprediksi jumlah penduduk Indonesia akan mencapai 267 juta jiwa pada 2020. Dari total penduduk tersebut, sebanyak 62 persen (PDF hlm 6) merupakan warga kelas menengah.

Dengan asumsi warga kelas menengah muslim sebanyak 62 persen, dan umat muslim sebanyak 207 juta jiwa, maka warga kelas menengah muslim di Indonesia pada 2020 sekitar 128 juta jiwa. Angka ini tentu menggiurkan untuk “digarap”.

Banyak faktor yang memicu fenomena hijrah, termasuk Internet dan media sosial yang memudahkan akses pada literatur Islam populer, serta munculnya figur-figur ustaz populer.

Baca Juga:Wakil Panglima Pejuang Pro-Integrasi Timor Timur Eurico Gueterres: Timor Timur Lepas Bukan Dosa dan Salah BJ HabibieJokowi Kirim Surpres Draft Usulan Revisi UU KPK

Melihat potensi pasar muslim yang besar, aplikasi Islami baru tampaknya masih akan terus bermunculan. Persaingan merebut kue tentu akan sangat ketat, dan tak menutup kemungkinan aplikasi Islami juga bersaing dengan aplikasi konvensional. (*)

0 Komentar