Ad 970x250

Lonjakan Kasus COVID-19 di November-Desember, Sri Mulyani: Ini Tugas Berat

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati

JAKARTA-Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati memproyeksikan ekonomi nasional tahun 2020 berada di kisaran -1,7% sampai 0,6%. Dia mengakui pemulihan ekonomi di sisa akhir tahun 2020 ini berat karena adanya lonjakan kasus COVID-19 di November-Desember.

Berdasarkan paparannya, beberapa lembaga Internasional memperkirakan ekonomi Indonesia masih berada di jalur teritori negatif. Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) sendiri memprediksi ekonomi Indonesia sepanjang 2020 -2,4%.

“Untuk tahun 2020 di Indonesia kami proyeksikan ekonomi akan berada di antara minus 1,7% hingga 0,6%. Prediksi OECD -2,4%. Ini adalah tugas yang berat bagi kami semua untuk melakukan pemulihan di triwulan IV-2020 karena kita melihat peningkatan penularan COVID di awal Desember,” kata Sri Mulyani dalam acara US-Indonesia Investment Summit ke-8 yang digelar virtual, Selasa (8/12/2020).

“Ini adalah musim libur sama dengan negara-negara lainnya, sehingga kita perlu menggunakan rem dulu untuk pemulihan perekonomian,” tambahnya. Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu menyebut ada perbaikan dari sisi demand karena mobilitas masyarakat telah meningkat. Namun di sisi lain, dia juga khawatir hal itu malah menimbulkan adanya peningkatan kasus COVID-19.

“Kita melihat secara perlahan orang-orang mulai meningkatkan mobilitas mereka. Semoga ini dapat mengindikasikan pemulihan ekonomi, bukan penularan COVID. Dengan meningkatnya mobilitas, maka akan ada jalan menuju pemulihan,” imbuhnya.

Sri Mulyani menjelaskan dunia usaha sudah mengalami tekanan yang dia ibaratkan seperti pingsan. Itu terlihat dari perbankan yang tidak berani menyalurkan kredit dan korporasi yang juga enggan mengajukan kredit di masa sulit ini. “Kalau yang satu nggak berani mengambil kredit, yang satunya tidak berani memberi kredit maka ekonominya akan pingsan,” ucapnya dalam acara Business, Finance & Accounting Conference yang digelar IAI, Selasa (8/12/2020).

Situasi sulit di masa pandemi bisa dilihat dari sektor keuangan terutama perbankan yang mengalami tekanan luar biasa. Hal itu tercermin dari hampir tidak adanya pertumbuhan penyaluran kredit.

“Selain mereka harus melakukan tadi PSAK 71, mereka lihat risiko kredit memang melonjak tinggi sekali. Maka kredit growth menurun, kredit growth sekarang ini hampir di level 0% atau bahkan negatif. Growth kredit yang sangat lemah tidak akan mungkin mendorong ekonomi kita dan ekonomi tidak mungkin hanya didorong dengan APBN sendiri,” terangnya.

Tidak adanya pertumbuhan kredit merupakan alarm tanda bahaya. Sebab, itu artinya para korporasi tidak melalui bisnisnya. Sri Mulyani menyebutnya kondisi dunia usaha sedang pingsan. “Maka situasi sekarang ini kita harus kembali atau berupaya bagaimana sektor-sektor keuangan dan korporasi kembali bisa melakukan bisnisnya. Secara hati-hati, namun harus mulai pulih, karena kalau terlalu lama dia pingsan ekonominya juga pingsan,” terangnya.

Bagaimanapun caranya, dunia usaha baik korporasi maupun perbankan harus segera siuman. Jika tidak, akan menjalar ke ekonomi Indonesia secara keseluruhan.

Artinya perbankan harus mulai menyalurkan kredit. Di sisi lain para korporasi juga harus mulai berani mengambil kredit. Hal itu lah yang mendasari pemerintah bersama OJK untuk memberikan relaksasi kredit. Pelaku usaha termasuk UMKM bisa tidak membayar utang pokoknya selama 6 bulan atau 9 bulan. (*)