Ad 970x250

TNI Beberkan Temuan Lokasi Diduga Persembunyian Kelompok Kriminal Bersenjata, Gua dan Rumah Pohon

202103101515 main.cropped 1615364167
Dok. Pen Kogabwilhan III

BERITA-Prajurit TNI berhasil menemukan tempat yang diduga kuat merupakan persembunyian Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) Papua berupa gua dan rumah pohon yang dijadikan sebagai pos tinjau.

Baca: Terungkap Cara Tak Manusiawi Kelompok OPM, Sengaja Gunakan Nyawa Warga Sipil Jebak TNI

Tempat tersebut ditemukan oleh Tim Patroli Yonif Raider 715/Mtl di Distrik Sugapa, Timika, Papua, Selasa (9/3).

Kepala Penerangan Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Kogabwilhan) III Kolonel Czi IGN Suriastawa menjelaskan penemuan ini bukan kali pertama. Menurutnya ini menegaskan KKB Papua menggunakan taktik gerilya dalam serangkaian aksinya.

“Selain tergolong kriminal, aksi front bersenjata OPM ini sudah tergolong aksi terorisme dengan taktik gerilya,” ujarnya dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Rabu (10/3/2021). 

Suriastawa memaparkan, teknik gerilya KKB di kampung, hutan, dan gunung Papua memiliki kemiripan dengan aksi kelompok teroris Mujahidin Indonesia Timur (MIT) di Poso, Sulawesi Tengah (Sulteng). Mereka bersembunyi di gua dan menempatkan pos tinjau di pohon-pohon untuk mengamankan diri dari kejaran personel TNI-Polri.

“Apabila merasa kuat, mereka akan menyerang pos TNI-Polri yang dianggap lengah, lari ke kampung untuk menjadikan warga sebagai tameng hidup dan mendapatkan logistik dari warga masyarakat,” katanya.

Menurutnya, warga yang mengungsi karena takut akan aksi KKB ini kemudian diputarbalikkan faktanya di hadapan media termasuk menyebarluaskannya melalui media sosial.

Dia menegaskan, front politik dan klandestin yang membuat berita di media kalau warga masyarakat mengungsi karena ada intimidasi dari aparat TNI-Polri.

“Selain dimuat di media online tertentu, mereka sering memanfaatkan akun-akun yang memiliki banyak followers agar viral di berbagai platform medsos. Tak jarang berita bohong ini dilengkapi dengan foto-foto lama atau dari kejadian lain hanya untuk mendapatkan framing. Begitulah kerja sama antarfront OPM, yaitu front bersenjata, front klandestin, dan front politik baik dalam maupun luar negeri,” tuturnya. (*)