Ikatan Bidan Indonesia Telah Menodai Museum Tsunami, Pemerintah Aceh Harus Menyikapinya

Oleh : Saiful Haris Arahas (Aktifis PII)

MUSEUM Tsunami Aceh merupakan sebuah monumen yang dibangun pada 2009 lalu. Monumen yang dirancang sebagai simbolis untuk gempa bumi dan tsunami Samudera Hindia yang sebagian besarnya telah meluluhlantakkan Aceh pada akhir 2004 silam lalu, dirancang oleh Ridwan Kamil yang merupakan walikota Bandung saat ini.

Pada dasarnya, tujuan dari didirikan monumen museum tsunami tersebut untuk mengingatkan masyarakat Aceh khususnya, dan dunia pada umumnya bahwa pada 26 Desember 2004 silam gempa yang berkekuatan 9,3 pada skala richter pernah menggoncangkan Aceh Bumi Serambi Mekkah ini, dan disusul gelombang besar maha dahsyat yang disebut Tsunami, menyapu sebagian besar daratan Aceh, yang menyebabkan sedikitnya 130 ribu orang meninggal kala itu.

Selain perannya sebagai tugu peringatan bagi para korban, museum ini juga berguna sebagai tempat perlindungan dari bencana semacam ini pada masa depan, termasuk “bukit pengungsian” bagi pengunjung jika tsunami terjadi lagi. Dan juga memiliki 4 (empat) fungsi utama, yaitu sebagai media rekreasi, edukasi, mitigasi/evakuasi, dan riset.

Adapun dalam kesempatan ini, penulis ingin mengkritisi mengenai sebuah video yang menjadi viral dan tersebar di media sosial (medsos), yang merupakan cuplikan dari kegiatan yang dilaksanakan oleh pihak Ikatan Bidan Indonesia (IBI) cabang Banda Aceh di Museum Tsunami Aceh.

Seperti nampak di video dan diberitakan oleh beberapa media massa sebelumnya, museum tempat mengenang para syuhada korban tsunami itu gegap gempita dengan aksi joget meriang ala ibu-ibu dalam satu acara beberapa waktu lalu. Adapun video ini dikecam oleh berbagai pihak setelah diunggah ke medsos oleh akun Manshoor Starvision.

Ternyata, sesuai dengan berita yang tersebar di media online acehtribunnews.com (Serambi Indonesia), Koordinator Museum Tsunami Aceh, Almuniza Kamal SSTP MSi mengatakan, pada tanggal 15 April 2017, Ikatan Bidan Indonesia (IBI) cabang Kota Banda Aceh menyurati manajemen Museum Tsunami Aceh dalam rangka permohonan penggunaan izin tempat untuk kegiatan Silaturrahmi Ikatan Bidan Indonesia (IBI), melalui perlombaan Paduan Suara yang bersifat nasionalisme dengan membawakan lagu-lagu nasional, kebangsaan, dan hymne IBI, yang direncanakan pada tanggal 11 April 2017.

Menurut penulis, keterangan diatas sangat keliru. Apakah salah penulisan redaksi bahasa oleh wartawan, ataukah ada kekeliruan informasi dari pihak terkait. Karena pengajuan surat pada tanggal 15 April 2017, dan akan digunakan oleh IBI Banda Aceh pada tanggal 11 April 2017.

Kemudian lanjut koordinator museum tsunami Aceh, pengelola museum tsunami Aceh memberikan izin kepada pihak IBI untuk melaksanakan kegiatan tersebut di area kolam (public park) Museum Tsunami Aceh. Dengan alasan bahwa, mengenai salah satu dari 4 (empat) fungsi utama Museum Tsunami Aceh, yaitu sebagai media rekreasi.

Penulis sangat menyayangi atas perilaku pihak IBI, yang telah menyalahgunakan izin tempat dengan berjoget-joget ria “aku meriang-aku meriang merindukan kasih sayang,” sebagaimana terdapat dalam cuplikan video tersebut.

Kata Koordinator Museum Tsunami Aceh, Almuniza Kamal bahwa cuplikan video tersebut secara kebetulan berada “diluar konteks” rangkaian kegiatan yang disertakan dalam surat permohonan izin. Dan jelas, dalam hal ini pihak pengelola Museum Tsunami Aceh tidak bertanggung jawab atas tindakan tersebut, karena pihak museum hanya memiliki wewenang untuk memberikan izin pemakaian tempat melalui surat yang disertakan dengan rangkaian kegiatan yang akan dilakukan.

Oleh sebab itu, penulis menilai tidak adanya tindakan tegas oleh pengelola Museum Tsunami Aceh, yang tidak menghentikan acara joget-joget ria tersebut, dan penulis menilai pihak pengelola museum sangat lalai, atau bahkan bisa dikatakan secara tidak langsung telah mendukung acara joget aku meriang tersebut.

Seharusnya, pihak pengelola bisa saja menghentikan acara tersebut, ketika sudah tidak sesuai lagi dengan ketentuan-ketentuan yang disepakati antara pihak IBI dan pengelola museum. Apakah pihak pengelola museum juga ikut menikmati joget-joget ala ibu-ibu yang sedang merindukan kasih sayang itu?

Pihak pengelola Museum Tsunami Aceh, tidak boleh lepas tanggung jawab begitu saja. Kejadian itu berada didalam kawasan museum tsunami Aceh, jadi menurut penulis, pihak pengelola museum harus ikut bertanggung jawab atas kelalaian itu.

Ini merupakan salah satu tindakan pelecehan, sebab diketahui bahwa Museum Tsunami Aceh itu dibangun sebab ada duka yang mendalam di Aceh, dan bahkan sang arsiteknya saja, Ridwan Kamil sempat menangis kala itu ketika merancang museum ini. Apalagi dengan kita masyarakat Aceh, yang pada umumnya adalah korban musibah tsunami, pasti banyak diantara kita yang telah menjadi korban, bahkan orang tua, saudara, keluarga kita menjadi korban tsunami, baik yang telah meninggal ataupun tidak.

Kemudian, penulis sendiri sangat menyayangkan atas tindakan para ibu-ibu IBI yang telah berjoget-joget ria disana. Apakah ibu-ibu IBI bukan korban tsunami? Atau tidak adakah salah satu dari keluarga Anda menjadi korban yang meninggal dalam musibah tsunami 2004 lalu?
Jika ada, tentu para ibu-ibu IBI ingat diri (thhë dröe).

Sekarang nasi sudah menjadi bubur, dan kejadian itu telah berlalu, namun bukan berarti harus lepas tangan. Penulis menilai, harus ada suatu sikap rasa penyesalan dengan cara, harus meminta maaf kepada seluruh masyarakat Aceh, dan harus dimuat oleh media massa. Sebab yang telah ibu-ibu IBI lakukan juga telah ditonton oleh ribuan pengguna medsos dan masyarakat Aceh.

Penulis juga menginginkan, adanya tindakan serius dari Pemerintah Aceh dengan mengevaluasi hal tersebut, dan perhatian yang serius dari semua pihak-pihak terkait untuk sama-sama menjaga nilai-nilai yang dianggap sakral bagi masyarakat Aceh.[*]


  • Penulis merupakan Aktifis Pelajar Islam Indonesia (PII), yang pernah menjabat sebagai Kepala Pusat Penerangan Koordinator Pusat Brigade PII (Kapuspen Korpus Brigade PII).

Tinggalkan Kami Pesan

Jadilah yang Pertama untuk Komentar!

Notify of
avatar
wpDiscuz